Langsung aja, penemunya adalah Sigmund Freud, seorang psikoanalisis kelahiran negara Austria.

Sejarahnya: kala itu dokter muda tersebut sedang melakukan riset tentang obat untuk mengurangi rasa sakit atau untuk meningkatkan performa. Dokter ini yakin bahwa dia telah menemukan obat tersebut, tapi tentu dokter tersebut harus melakukan eksperimen terlebih dahulu karena eksperimen bagi nilai obat adalah sebagai sebuah analgesik. Tapi dokter ini tidak sabar ingin ketemu ama tunangannya, akhirnya eksperimen terhadap obat ini dilakukan oleh koleganya. Obat ini adalah kokain, peristiwa ini terjadi tahun 1884, dokter muda itu bernama Sigmund Freud. Itu lah ringkasannya. Klo mau baca ceritanya lengkap, silakan:

Sejak dulu sampai sekarang manusia telah mencari obat atau ramuan ajaib untuk mengurangi rasa sakit atau untuk meningkatkan performa. Salah satu riset seperti itu dilakukan oleh seorang dokter muda ambisius yang percaya bahwa dia telah menemukan sebuah obat yang memiliki semua jenis khasiat ajaib itu. Mendengar bahwa obat tersebut berhasil digunakan untuk membangkitkan tenaga para prajurit yang menderita kehausan, dokter muda ini memutuskan untuk mencoba kepada pasien-pasien, kolega-kolega dan teman-temannya. Jika obat bekerja seperti yang diharapkannya, dia akan memperoleh ketenaran yang sangat didambakannya.

Setelah mempelajari khasiat obat itu bagi penyakit jantung, kelelahan saraf, kecanduan alkohol, dan morfin, dan beberapa masalah psikologis dan fisiologis lainnya, si dokter memutuskan untuk mencoba obat itu pada dirinya sendiri. Dia cukup senang dengan hasil-hasilnya. Baginya, obat itu memiliki aroma yang menyenangkan dan sensasi yang luar biasa pada bibir dan mulutnya. Namun yang lebih penting adalah efek terapi itu bagi depresinya yang serius. Di sepucuk surat untuk tunangannya yang sudah tidak dijumpainya selama setahun, dia melaporkan bahwa selama depresi beratnya yang terakhir, dia mengambil seporsi kecil obat itu dengan hasil yang menakjubkan. Dia menulis bahwa jika nanti mereka bertemu, dia akan menjadi seperti manusia liar saat melihatnya, sbagai efek dari obat itu. Dia juga mengatakan pada tunangannya bahwa dia akan memberinya seporsi kecil obat itu agar membuatnya kuat dan membantunya menambah berat badan.

Dokter moda menulis sebuah pamflet yang mengampanyekan manfaat obat itu namun, dia belum menyelesaikan eksperimennya yang dibutuhkan bagi nilai obat sebagai sebuah analgesik. Tidak sabar untuk bisa bertemu tunangannya, dia pun menunda penyelesaian eksperimennya dan pergi untuk menjumpainya. Selama kunjungan itu, seorang kolega — jadi bukan dia — yang menyelesaikan eksperimen itu, menerbitkan hasil-hasilnya, dan mendapat pengakuan yang begitu didambakan sang dokter muda itu.
Peristiwa ini terjadi pada 1884, obat yang diceritakan adalah kokain, dan dokter muda itu adalah Sigmund Freud.

sumber: Feist, Jess. Feist, Gregory J. 2008. Theories of Personality 6th Edition. McGraw Hill: New York.