Panas, sesak, sempit. Itulah gambaran kota Bandung saat ini. Jauh sekali dengan apa yang saya rasakan ketika tahun 2004, apalagi jika dibandingkan dengan waktu saya masih kecil.

Saat saya mulai kuliah pada akhir bulan Agustus tahun 2004, saya biasa berangkat jam 6 pagi dari rumah menuju kampus saya IT Telkom (dahulu bernama STT Telkom) di Dayeuhkolot. Dari rumah saya yang berlokasi di Cinunuk, kecamatan Cileunyi, waktu tempuh rata-rata dari rumah ke kampus adalah 40 menit, jadi ketika sudah jam setengah 7 lewat 10 menit, saya sudah sampai kampus, lalu memarkir motor saya, lalu cuci tangan dan masuk kelas. Air keran terasa hangat karena tangan saya dingin, dingin karena perjalanan menuju kampus di pagi hari. Tapi itu dulu, tahun 2004.

Tahun demi tahun bertambah satu, kini sudah memasuki tahun 2011. Suasana kota Bandung tidak senyaman yang dulu saya rasakan. Baru saja berangkat dari rumah, ketika memasuki jalan Cinunuk, langsung bertemu macet sampai Cibiru. Memasuki jalan Soekarno Hatta, lalu lintas menjadi lancar sampai pada perempatan Kiara Condong. Di perempatan ini, terjadi antrian lampu merah yang sangat panjang. Sebenarnya di tahun 2004 pun sudah terjadi antrian panjang semacam ini. Tapi pada tahun 2004, biasanya antrian terjadi jika sudah memasuki jam setengah 7 atau lebih. Tetapi tidak pada tahun 2011. Pada tahun 2011, antrian sudah mulai sejak jam 6 pagi, antrian ini bertambah panjang dalam hitungan detik hingga panjangnya mencapai daerah Metro / Hypermart.

Setelah melewati perempatan ini, saya bertemu lagi dengan antrian lain, yaitu antrian perempatan buah batu. Sebenarnya tujuan perjalanan saya ketika sudah sampai perempatan Buah Batu adalah belok kiri (langsung) menuju Dayeuh Kolot. Tapi tidak bisa dilakukan karena antrian ini panjangnya mencapai perempatan Kiara Condong itu sendiri.

Sampai di daerah pasar Kordon, disini terjadi kemacetan yang disebabkan oleh mobil Angkutan Umum yang berhenti seenaknya di tengah jalan. Selain itu, kendaraan bermotor yang mau berbelok ke pasar sering mengambil jalur kanan sehingga kendaraan yang akan lurus harus mengantri panjang.

Masih belum selesai, setelah melewati kemacetan ini, jalur menjadi lancar tapi hanya jalan Bojong Soang. Jalan ini padat, dan yang membuat kesal adalah arus dari kabupaten yang menuju kota. Banyak pengendara motor yang mengambil jalur yang berlawanan sampai menghabiskan jalan. Sifat pengguna jalan yang tidak ingin mengalah satu sama lain, juga turut menjadi faktor kemacetan di kota Bandung

Waktu tempuh yang dulu rata-ratanya hanya 40 menit, kini menjadi 2 jam. Untuk menghindari macet, saya harus berangkat antara jam 5 sampai jam setengah 6 pagi.