Hentikan penarikan pajak! Ya itulah topik hangat yang beredar di berbagai media. Pasalnya, korupsi di negeri ini sudah akut dan merajalela.

Bayangkan saja, setiap bulang gaji seseorang sudah dipotong untuk pajak. Setiap tahun bikin dokumen SPPT. Ketika makan di luar, misal di resto atau fast food, kita harus membayar pajak lagi 10%. Ketika kita beli baju, pajak lagi 10%. Membeli gadget, itu harganya sudah termasuk pajak loh, makanya harganya mahal. Padahal harga aslinya murah loh. Ambil contoh nyata deh, gw dulu mau beli HP baru, waktu itu tahun 2008. Kata temen gw, tunggu Apple keluarin iPhone aja, fitur bagus, harga cuma $199 atau $299. Wow! Betapa Wow buat gw saat itu. Karena kalau 1$ = 10.000 IDR, berarti kalo ga 1.990.000 IDR ya 2.990.000 IDR. Udah murah tuh, soalnya budget gw lebih dari itu. Eh taunya iPhone ga masuk Indonesia, paling deket gw harus ke Singapura.

Sekalinya iPhone masuk ke Indonesia, harganya 10.000.000 IDR. Ini kena cukai gede atau calo nya yang serakah yah? Banyak temen gw yang bilang ini karena pajaknya gede. Intinya, hampir semuanya dinegara ini kena pajak. Dan untuk barang ‘Lux’, pajaknya gede banget.

Tetapi, duit pajak yang sudah dibayar, dikorupsi, digunakan untuk kepentingan segelintir orang. Lalu apa bedanya bangsa ini dengan bangsa-bangsa kerajaan zaman dahulu yang menarik upeti dari rakyat? Mereka juga sama-sama menggunakannya untuk bermewah-mewah di istana raja.

Jujur saja. Saya kecewa. Rakyat kecewa. Setiap orang dinegara ini yang selama ini bayar pajak, kecewa! Oleh karena itu, munculah pemikiran-pemikiran dari pada cendikia, yaitu buktikan dulu kalau upeti dari rakyat ini digunakan dengan benar, digunakan untuk kepentingan rakyat. Kalau sudah terbukti, baru rakyat mau bayar pajak.