qiuck-count

Ada kisah menarik dari Negeri ini. Tanggal 9 Juli 2014 lalu, telah dilaksanakan Pemilu Pilpres 2014. Apa yang menarik? Yang menarik adalah: ada 2 calon Presiden, keduanya saling mengklaim kemenangan. Hal ini disebabkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survei memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Yang jadi perhatian saya, mengapa perbedaan hasil Quick Count sangat signifikan? Apa sih sebetulnya Quick Count itu?

Quick Count sebenarnya adalah alat yang diadopsi dari National Democratic Institute (NDI). Secara sederhana, metode-nya yaitu dengan cara mengambil sample dari beberapa TPS, kemudian pada data-data tadi dilakukan tabulasi dengan ilmu statistik. Dan hasilnya biasanya tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Lalu mengapa bisa ada perbedaan hasil Quick Count? Menurut saya pribadi, ini bisa terjadi karena human error seperti kesalahan dalam pengambilan sample, salah dalam penyampaian informasi, atau bahkan salah dalam penulisan. Angka tidak pernah berbohong (manusia-lah yang mungkin berbohong).

Lebih lanjut, mari kita simak langkah-langkah kerja yang dilakukan lembaga survei saat melakukan Quick Count.

1. Menentukan sampel TPS
Langkah pertama adalah, dengan menentukan TPS secara ACAK. Jangan sampai mengambil sampel sesuai pesanan:mrgreen: Selain acak, juga harus representatif dengan mewakili karakteristik populasi di Indonesia. Semakin banyak sample, tentu akan semakin akurat. (Logis kan?). Langkah ini sangat menentukan hasil dari Quick Count. Dan biaya-nya juga relatif besar. Pasalnya, semakin banyak sample, maka semakin besar honor yang harus dibayarkan kepada relawan untuk mengambil data langsung ke lapangan.

2. Merekrut Relawan
Langkah kedua yaitu Merekrut Relawan. Para relawan ini bertugas memantau TPS hingga rekapitulasi suara untuk kemudian mengirimkannya ke pusat. Lalu bagaimana kita menjamin kualitas kerja dari para relawan? Hal ini bisa disiasati dengan Quality Control, misalnya keberadaan relawan harus diketahui oleh pihak Kelompok Panitia Penyelenggara Suara (KPPS) setempat. Sehingga dapat dipertanggungjawabkan keaslian datanya. Lembaga survey juga harus menyimpan nomor telepon KPPS jika sewaktu-waktu diperlukan.

3. Simulasi Quick Count
Simulasi ini tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keakuratan serta kelemahan (bug) software yang nantinya akan digunakan untuk mengolah data yang dikirimkan oleh para relawan tadi.

4. Mengirim Rekapitulasi Suara ke Pusat
Langkah ke-4, yaitu para relawan yang memantau di setiap TPS mengirim hasil rekapitulasi suara dalam formulir C-1 ke pusat. Biasanya para relawan mengirimkan datanya menggunakan layanan pesan singkat atau SMS (Short Message Service). Akan lebih baik bila di lembagai survei ada SMS Gateway yg memiliki format SMS tertentu untuk menerima kiriman data dari para relawan sehingga data lebih cepat terhimpun.

5. Mengolah Data dan Menampilkan Hasil
Setelah data masuk, data-data tersebut akan diolah oleh software yang sudah dibuat Programmer. Tentunya software ini mengimplementasikan ilmu statistik (Programmernya harus lulus mata kuliah Probabilitas dan Statistika nih :P). Terakhir, software akan menampilkan hasilnya.

sumber: http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/11/06330421/bagaimana.cara.kerja.quick.count